BARISAN.CO - Isu mengenai penghasilan pengemudi ojek online (ojol) yang diklaim naik hingga tiga kali lipat kembali memicu perdebatan hangat di masyarakat. Di satu sisi, segelintir pengemudi memang mampu meraup pendapatan signifikan berkat strategi jam kerja ekstra keras dan pemanfaatan berbagai bonus performa.
Namun, di balik narasi kesuksesan tersebut, kondisi riil di lapangan menunjukkan dinamika yang jauh lebih kompleks dan penuh tantangan.
Data dari laporan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) serta studi Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan menggambarkan bahwa ekosistem transportasi berbasis aplikasi ini kini menampung sekitar 5,6 juta tenaga kerja di seluruh Indonesia.
Angka ini menjadikan sektor gig economy sebagai salah satu penopang utama penyerapan tenaga kerja informal nasional. Kendati demikian, lonjakan jumlah pengemudi yang tidak sebanding dengan pertumbuhan permintaan (demand) justru memicu persaingan ketat di jalanan.
Bagi mayoritas dari 5,6 juta mitra pengemudi, klaim kenaikan pendapatan drastis terasa kontradiktif dengan realita harian. Tingginya potong kompensasi aplikasi, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), serta tingginya biaya perawatan kendaraan (depresiasi) terus menggerus pendapatan bersih (take-home pay) mereka.
Banyak pengemudi harus bekerja melebihi 12 jam sehari hanya untuk mencapai target minimum guna menutup biaya operasional dan membawa pulang pendapatan yang layak bagi keluarga.
Nasib jutaan tenaga kerja ini kini dipertaruhkan dalam ketidakpastian regulasi dan skema kemitraan. Perlindungan sosial seperti jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, hingga kepastian tarif batas atas dan bawah masih menjadi tuntutan utama yang belum sepenuhnya menyejahterakan mitra secara merata.
Ekosistem gig economy memang menawarkan fleksibilitas dan lapangan kerja cepat, tetapi tanpa evaluasi regulasi dan skema pembagian hasil yang adil, narasi peningkatan penghasilan berisiko hanya menjadi anomali sebagian kecil pihak, sementara jutaan pengemudi lainnya tetap berjuang di bawah bayang-bayang kerentanan ekonomi. []
