Menelusuri jejak perjuangan KH Hasyim Asy'ari, ulama besar dan guru bangsa pendiri Nahdlatul Ulama. Simak kisah hidup dan sejarah lengkapnya di sini.
PUSTAKA BARISAN - Siapa yang tidak mengenal KH. Hasyim Asy’ari? Di kalangan ulama dan santri Indonesia, nama beliau menempati tempat yang sangat istimewa.
Beliau dikenal dengan gelar Hadratus Syaikh, sebuah sebutan yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai guru besar atau maha guru dalam tradisi pesantren.
Gelar tersebut menunjukkan betapa tinggi kedudukan keilmuan dan pengaruh beliau di lingkungan pesantren, bahkan dalam konteks tradisi pendidikan Islam gelar itu memiliki makna yang sangat kuat.
Pengaruh KH. Hasyim Asy’ari tidak hanya terbatas pada dunia pendidikan pesantren. Beliau juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 bersama sejumlah ulama lainnya.
Kiprahnya berlangsung pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, ketika kehidupan umat Islam dan bangsa Indonesia berada dalam tekanan politik yang berat. Melalui pendidikan, organisasi, pemikiran keagamaan, dan perjuangan kebangsaan, KH. Hasyim Asy’ari mengambil peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat.
Atas jasa-jasanya, pemerintah Republik Indonesia kemudian menetapkan beliau sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 1964.
Masa Kecil dan Latar Belakang Keluarga
KH. Hasyim Asy’ari dilahirkan pada 24 Dzulqa’dah 1287 H atau 14 Februari 1871 M. Ia berasal dari Desa Nggedang, Jombang, Jawa Timur.
Dalam bahan biografi disebutkan bahwa beliau merupakan anak ketiga dari pasangan Kiai Asy’ari bin Kiai Usman dan Halimah binti Usman. Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren yang memiliki tradisi keilmuan Islam cukup kuat.
Ayahnya, Kiai Asy’ari, dikenal sebagai pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Keras di Jombang. Sementara kakeknya dari garis ayah, Kiai Usman, merupakan pendiri Pesantren Gedang. Adapun buyutnya, Kiai Sihah, dikenal sebagai pendiri Pesantren Tambakberas.
Dengan demikian, lingkungan keluarga KH. Hasyim Asy’ari sejak awal memang sangat dekat dengan dunia pendidikan agama dan kehidupan pesantren.
Dari pihak ibu, beliau disebut memiliki garis keturunan yang terhubung dengan Jaka Tingkir atau Sultan Pajang. Tradisi keluarga seperti inilah yang sejak dini membentuk kepribadian Hasyim.
Nilai agama tidak hanya diperoleh melalui pengajaran formal, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari yang berlangsung di tengah keluarga dan lingkungan pesantren.
Kecerdasan serta bakat kepemimpinannya disebut telah terlihat sejak masih kanak-kanak. Di antara teman-teman sepermainannya, Hasyim sering tampil sebagai pemimpin.
Bahkan ketika usianya baru sekitar 13 tahun, ia telah dipercaya membantu ayahnya mengajar santri-santri yang usianya lebih tua daripada dirinya.
Hal tersebut menjadi salah satu tanda awal dari kemampuan intelektual dan kepemimpinan yang kelak berkembang menjadi lebih besar.
Silsilah Nasab dan Hubungan Keilmuan
Dalam catatan mengenai nasabnya, KH. Hasyim Asy’ari disebut memiliki garis keturunan yang terhubung dengan Sunan Giri atau Raden Ainul Yaqin.
Dari jalur tersebut, silsilah yang dicantumkan antara lain melalui Abdurrahman atau Jaka Tingkir, Abdul Halim atau Pangeran Benawa, Abdurrahman atau Pangeran Samhud Bagda, Abdul Halim, Abdul Wahid, Abu Sarwan, Kiai Asy’ari hingga KH. Hasyim Asy’ari.
Sementara berdasarkan catatan nasab Sa’adah BaAlawi Hadramaut yang dicantumkan dalam bahan, garis keturunan Sunan Giri disebut bersambung kepada Rasulullah SAW melalui jalur Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad an-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik atau Ahmad Khan, Abdullah atau al-Azhamat Khan, Ahmad Syah Jalal atau Jalaluddin Khan, Jamaluddin Akbar al-Husaini atau Maulana Akbar, Maulana Ishaq, hingga ‘Ainul Yaqin atau Sunan Giri.
Terlepas dari rincian silsilah tersebut, satu hal yang sangat menonjol dari kehidupan KH. Hasyim Asy’ari adalah kuatnya tradisi keilmuan yang diwarisinya. Sejak kecil ia mendapatkan dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya.
Setelah beranjak remaja, ia tidak berhenti belajar di lingkungan keluarga. Pada usia sekitar 15 tahun, ia mulai meninggalkan kampung halaman untuk berkelana dari satu pesantren ke pesantren lainnya.
Perjalanan mencari ilmu itu dimulai dari Pesantren Wonokoyo di Probolinggo. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke Pesantren Langitan di Widang, Tuban, kemudian ke Pesantren Trenggilis di Semarang.
Ia masih merasa perlu memperdalam ilmu sehingga perjalanan belajarnya berlanjut ke Pesantren Kademangan, Bangkalan, di bawah asuhan KH. Kholil Bangkalan. Setelah itu ia melanjutkan ke Pesantren Siwalan, Sidoarjo, yang diasuh oleh Kiai Ya’qub.
Di Pesantren Siwalan inilah Hasyim menghabiskan waktu cukup lama, sekitar lima tahun. Kiai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang luas pengetahuannya dan mendalam keilmuannya.
Hasyim tidak hanya memperoleh ilmu agama dari pesantren tersebut, tetapi kemudian juga menjadi bagian dari keluarga gurunya. Pada usia sekitar 21 tahun, ia dinikahkan dengan Khadijah, putri Kiai Ya’qub.
Setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Masa tinggalnya di Tanah Suci kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Ia pulang ke Indonesia setelah beberapa waktu, tetapi kehidupan rumah tangganya mengalami ujian berat. Istri dan anaknya meninggal dunia. Peristiwa tersebut tidak membuat semangatnya untuk menuntut ilmu berhenti.
Pada tahun 1893, Hasyim kembali berangkat ke Makkah. Kali ini ia menetap di Tanah Suci selama kurang lebih tujuh tahun.
Di sana ia belajar kepada sejumlah ulama terkemuka, antara lain Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, Syaikh Ahmad Amin Al-Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi.
Di antara guru yang sangat penting dalam perjalanan keilmuannya adalah Syaikh Mahfudz At-Tarmasi. Dari beliau, KH. Hasyim Asy’ari mendapatkan pendalaman ilmu hadis.
Syaikh Mahfudz dikenal sebagai ulama asal Termas, Pacitan, Jawa Timur, yang mengajar kitab Shahih Al-Bukhari di Makkah. Kelak, penguasaan ilmu hadis tersebut menjadi salah satu ciri penting Pesantren Tebuireng.
Selain nama-nama tersebut, dalam silsilah keilmuan KH. Hasyim Asy’ari juga disebut sejumlah ulama lain, seperti KH. Muhammad Saleh Darat Semarang, KH. Kholil Bangkalan, Kiai Ya’qub Sidoarjo, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, Syaikh Ahmad Amin Al-Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Al-Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Segaf, Sayyid Husain Al-Habsyi, Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani, Sayyid Abdullah al-Zawawi, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas, dan Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi. Beliau juga disebut memperoleh ijazah dari Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad.
Kembali ke Tanah Air dan Mendirikan Tebuireng
Setelah bertahun-tahun menuntut ilmu di Tanah Suci, KH. Hasyim Asy’ari kembali ke Indonesia pada akhir abad ke-19. Ia kemudian mengajar di pesantren milik keluarganya. Setelah itu, ia mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang pada tahun 1899.
Pesantren tersebut pada awalnya jauh dari gambaran pesantren besar sebagaimana yang dikenal kemudian. KH. Hasyim membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng, sekitar 200 meter di sebelah barat Pabrik Gula Cukir.
Di atas tanah tersebut dibangun sebuah bangunan sederhana dari bambu atau tratak. Bagian depan digunakan untuk kegiatan mengajar dan salat berjamaah, sedangkan bagian belakang menjadi tempat tinggal.
Dari bangunan sederhana itulah Pesantren Tebuireng berkembang. Pada masa awal, jumlah santrinya hanya sekitar delapan orang.
Namun dalam waktu kurang lebih tiga bulan jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 28 orang. Perkembangan itu menunjukkan bahwa keberadaan Tebuireng secara perlahan mulai mendapatkan perhatian masyarakat.
KH. Hasyim tidak hanya mengembangkan pesantren sebagai tempat pengajaran ilmu agama. Ia juga memperkenalkan pola pendidikan yang mendorong santri untuk berpikir dan berdiskusi melalui sistem musyawarah.
Dalam perkembangan selanjutnya, pengetahuan umum juga mulai diperkenalkan ke lingkungan pesantren, antara lain Bahasa Melayu, Matematika, Ilmu Bumi, bahkan Bahasa Belanda dan Sejarah Indonesia.
Tebuireng kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang sangat penting. Ribuan santri datang untuk belajar kepada KH. Hasyim Asy’ari.
Dari lingkungan pesantren tersebut lahir banyak tokoh yang kemudian memiliki pengaruh luas dalam dunia Islam dan kehidupan kebangsaan Indonesia.
Di antara murid-muridnya yang kemudian dikenal luas adalah KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. R. As’ad Syamsul Arifin, KH. Wahid Hasyim, KH. Achmad Shiddiq, Syekh Sa’dullah al-Maimani yang dikenal sebagai mufti di Bombay, Syekh Umar Hamdan yang dikenal sebagai ahli hadis di Makkah, Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah dari Syiria, KH. R. Asnawi dari Kudus, KH. Dahlan dari Kudus, dan KH. Shaleh dari Tayu.
Pada masa berikutnya, Tebuireng menjadi salah satu pesantren yang sangat berpengaruh di Jawa dan Madura.
Para alumninya kemudian mendirikan dan memimpin berbagai pesantren serta lembaga keagamaan. Karena pengaruh keilmuan dan luasnya jaringan murid tersebut, KH. Hasyim Asy’ari memperoleh gelar Hadratus Syaikh.
Kehidupan Keluarga dan Perjuangan Ekonomi
Kehidupan KH. Hasyim Asy’ari tidak hanya berkisar pada kegiatan mengajar. Ia juga dikenal sebagai petani dan pedagang. Ia memiliki tanah pertanian yang cukup luas dan mengelola hasilnya untuk menopang kehidupan keluarga sekaligus pesantrennya.
Dalam bahan disebutkan bahwa dua hari dalam sepekan biasanya digunakan KH. Hasyim untuk tidak mengajar secara langsung.
Pada waktu tersebut ia memeriksa sawah-sawahnya. Ia juga terkadang pergi ke Surabaya untuk berdagang kuda dan besi serta menjual hasil pertanian.
Aktivitas bertani dan berdagang tersebut menjadi bagian dari kehidupan beliau dalam memenuhi kebutuhan keluarga dan pesantren.
Dengan demikian, kehidupan KH. Hasyim memperlihatkan bahwa pengabdian kepada pendidikan dan agama tidak selalu berarti meninggalkan aktivitas ekonomi.
Kehidupan pesantren pada masa itu juga membutuhkan sumber daya yang kuat agar dapat terus berjalan. KH. Hasyim mengelola sebagian kebutuhan tersebut melalui pertanian dan perdagangan.
Dalam kehidupan rumah tangganya, KH. Hasyim beberapa kali mengalami kehilangan. Istri pertamanya, Khadijah, meninggal ketika berada di Makkah.
Anak mereka, Abdullah, juga meninggal tidak lama kemudian. Setelah itu beliau menikah lagi, termasuk dengan Nafisah dari keluarga pesantren dan kemudian dengan Nafiqah serta Masruroh.
Dari pernikahannya dengan Nyai Nafiqoh, KH. Hasyim dikaruniai sepuluh anak, yaitu Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim atau Abdul Kholik, Abdul Karim, Ubaidillah, Mashuroh, dan Muhammad Yusuf.
Setelah Nyai Nafiqoh wafat, KH. Hasyim menikah dengan Nyai Masruroh, putri Kiai Hasan dari Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan tersebut lahir Abdul Qodir, Fatimah, Khotijah, dan Muhammad Ya’kub.
Pemikiran Keagamaan dan Pentingnya Mazhab
Dalam pemikiran keagamaan, salah satu hal yang paling menonjol dari KH. Hasyim Asy’ari adalah pembelaannya terhadap tradisi bermadzhab.
Baginya, mengikuti mazhab bukan berarti menutup pintu pemikiran, tetapi merupakan salah satu cara untuk memahami ajaran Al-Qur’an dan hadis melalui warisan keilmuan para ulama terdahulu.
KH. Hasyim pada dasarnya tidak melarang umat Islam mempelajari pendapat di luar empat mazhab. Namun persoalannya adalah ketersediaan literatur dan kesinambungan pemikiran.
Menurut pandangan yang dinisbatkan kepadanya, memahami Al-Qur’an dan hadis tidak cukup hanya dengan membaca teksnya secara langsung tanpa mengetahui bagaimana para ulama besar menafsirkan, menjelaskan, dan mengembangkan pemahaman terhadap kedua sumber tersebut.
Pandangan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar penting dalam tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama. Ketika itu terdapat perbedaan yang cukup kuat antara kelompok yang mempertahankan tradisi bermadzhab dan kelompok yang mendorong pembaruan serta tidak terikat pada mazhab tertentu.
KH. Hasyim sebenarnya tidak menolak seluruh gagasan pembaruan Islam. Ia menerima semangat untuk membangkitkan kembali umat Islam, tetapi berbeda dalam persoalan keterikatan kepada mazhab. Dalam pandangannya, pembaruan tidak harus dilakukan dengan memutus hubungan dengan tradisi keilmuan ulama terdahulu.
Sikap tersebut menjadi semakin penting ketika gagasan pembaruan Islam yang dibawa Muhammad Abduh dari Mesir mulai memengaruhi para pelajar Indonesia di Makkah.
Abduh mendorong umat Islam untuk memurnikan kembali ajaran agama, melakukan pembaruan pendidikan, mengkaji kembali doktrin Islam agar sesuai dengan kebutuhan kehidupan modern, serta membangun kembali kekuatan umat Islam dalam kehidupan sosial dan politik.
KH. Hasyim menerima semangat kebangkitan tersebut, tetapi tetap mempertahankan pentingnya sistem mazhab. Ia berpandangan bahwa pemahaman terhadap Al-Qur’an dan hadis harus dibangun di atas tradisi keilmuan yang kuat. Karena itu, tradisi pesantren kemudian menjadi salah satu ruang penting bagi pelestarian sistem tersebut.
Dari Komite Hijaz Menuju Nahdlatul Ulama
Perbedaan pandangan mengenai mazhab semakin terlihat ketika terjadi perkembangan politik keagamaan di Arab Saudi.
Pada masa itu, Raja Ibnu Saud berencana menjadikan paham Salafi-Wahabi sebagai mazhab resmi negara dan melakukan perubahan terhadap sejumlah situs serta peninggalan sejarah Islam yang selama ini diziarahi umat Muslim.
Rencana tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan ulama pesantren. Mereka menganggap bahwa kebebasan bermadzhab perlu tetap dipertahankan dan warisan sejarah Islam harus dijaga.
Persoalan itu kemudian dibawa dalam dinamika Kongres Al Islam dan rencana Kongres Islam Internasional di Makkah.
Karena aspirasi kelompok tradisional tidak sepenuhnya tertampung, lahirlah gagasan membentuk Komite Hijaz. Komite yang dipelopori KH. Abdul Wahab Hasbullah tersebut bertujuan menyampaikan aspirasi ulama pesantren kepada penguasa Arab Saudi.
Perjuangan itu kemudian menjadi salah satu latar penting lahirnya Nahdlatul Ulama. Pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H, Nahdlatul Ulama secara resmi didirikan. KH. Hasyim Asy’ari dipercaya sebagai Rais Akbar pertama.
NU kemudian berkembang menjadi organisasi keagamaan dengan jaringan yang sangat luas. Kehadirannya bukan hanya berkaitan dengan persoalan ibadah, tetapi juga pendidikan, sosial, kebangsaan, ekonomi, dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Sebelum NU berdiri, sejumlah ulama muda juga telah membangun berbagai organisasi dan kelompok kegiatan. Nahdlatul Wathan didirikan pada 1916, kemudian Taswirul Afkar pada 1918 sebagai ruang pemikiran dan pendidikan.
Setelah itu muncul Nahdlatut Tujjar atau pergerakan kaum saudagar yang diarahkan untuk memperkuat perekonomian masyarakat.
Rangkaian gerakan tersebut memperlihatkan bahwa kebangkitan ulama pada masa itu tidak hanya bergerak dalam wilayah pengajaran agama.
Pendidikan, pemikiran, ekonomi, organisasi, dan persoalan kebangsaan dipandang sebagai bagian yang saling berkaitan dalam membangun masyarakat.
NU, Komite Hijaz, dan Perjuangan Kebangsaan
Setelah NU berdiri, posisi kelompok pesantren dalam kehidupan umat Islam Indonesia semakin kuat. Pada 1937, sejumlah organisasi Islam membentuk Majelis Islam A’la Indonesia atau MIAI. KH. Hasyim Asy’ari kemudian dipercaya menjadi ketuanya.
Beliau juga pernah menjadi pemimpin Masyumi, organisasi politik Islam yang memiliki pengaruh besar pada masa tersebut.
Keterlibatan KH. Hasyim dalam organisasi tidak dapat dipisahkan dari situasi bangsa Indonesia yang masih berada di bawah penjajahan. Pendidikan dan organisasi menjadi sarana penting untuk membangun kesadaran masyarakat.
Sikap KH. Hasyim terhadap penjajahan Belanda dikenal tegas dan non-kooperatif. Ia mengeluarkan sejumlah fatwa yang menolak kebijakan pemerintah kolonial. Salah satu yang paling terkenal adalah seruan jihad melawan penjajahan.
Pengaruh KH. Hasyim membuat pemerintah kolonial memberikan perhatian khusus kepadanya. Belanda bahkan berusaha mendekati beliau dan pernah memberikan penghargaan, tetapi tawaran tersebut ditolak.
Dalam perjuangannya, KH. Hasyim juga pernah mengeluarkan fatwa yang melarang umat Islam menunaikan ibadah haji menggunakan kapal Belanda. Fatwa tersebut kemudian disebarluaskan sehingga menimbulkan kegelisahan di pihak pemerintah kolonial.
Pesantren Tebuireng sendiri tidak luput dari tekanan Belanda. Pada 1913, seorang pencuri yang dikirim untuk membuat kekacauan di lingkungan pesantren tertangkap dan kemudian meninggal setelah dikeroyok para santri. Peristiwa itu digunakan Belanda untuk menuduh KH. Hasyim terlibat dalam pembunuhan.
Namun dalam pemeriksaan, KH. Hasyim mampu menjawab tuduhan tersebut dengan baik sehingga akhirnya dibebaskan. Belanda kemudian mengambil tindakan lebih keras. Pasukan mereka menyerang dan merusak pesantren. Bangunan pesantren porak-poranda dan sejumlah kitab dibakar atau dihancurkan.
Tekanan tersebut tidak membuat KH. Hasyim menghentikan perjuangannya. Bahkan ketika Jepang menggantikan kekuasaan Belanda, sikap kritisnya tetap dipertahankan.
Pada masa pendudukan Jepang, KH. Hasyim ditangkap karena menolak melakukan seikerei, yaitu kewajiban membungkukkan badan ke arah Tokyo sebagai penghormatan kepada Kaisar Jepang. Bagi beliau, tindakan semacam itu tidak dapat diterima karena penghormatan dalam bentuk ibadah hanya ditujukan kepada Allah.
KH. Hasyim kemudian dipindahkan dari satu tempat tahanan ke tempat lainnya, mulai dari Jombang, Mojokerto, hingga Bubutan, Surabaya. Selama masa tahanan ia mengalami penyiksaan fisik. Salah satu jarinya bahkan mengalami cedera hingga patah dan tidak dapat digerakkan dengan baik.
Penahanan tersebut membuat aktivitas Pesantren Tebuireng berhenti sementara. Keluarga beliau juga mengalami kesulitan.
Namun tekanan dari para ulama dan santri serta upaya KH. Wahid Hasyim dan KH. Abdul Wahab Hasbullah akhirnya membuat pemerintah Jepang membebaskan KH. Hasyim pada 18 Agustus 1942 setelah sekitar empat bulan ditahan.
Resolusi Jihad dan Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, perjuangan belum selesai. Ancaman terhadap kemerdekaan datang kembali ketika pasukan NICA yang membonceng Sekutu memasuki Indonesia. Situasi tersebut kemudian mendorong para ulama untuk mengambil sikap.
Pada 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy’ari bersama para ulama menyerukan Resolusi Jihad. Seruan tersebut menegaskan kewajiban umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan kembali.
Resolusi tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang mendorong mobilisasi rakyat dalam menghadapi pasukan Inggris dan NICA di Surabaya.
Tidak lama kemudian pecahlah pertempuran besar pada 10 November 1945. Rakyat dari berbagai daerah datang dengan persenjataan seadanya untuk mempertahankan Surabaya.
Peristiwa tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu tonggak penting perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Pada 7 November 1945, umat Islam juga membentuk Masyumi sebagai wadah konsolidasi politik umat Islam. KH. Hasyim Asy’ari dipercaya menjadi Rais ‘Am pertama untuk periode 1945–1947.
Dalam masa perjuangan tersebut, KH. Hasyim dikenal sebagai salah satu tokoh yang memberikan nasihat dan arahan kepada berbagai kelompok perjuangan.
Gerakan seperti GPII, Hizbullah, Sabilillah, dan kelompok Mujahidin memperoleh perhatian serta dukungan dari para ulama. Tokoh militer seperti Jenderal Soedirman dan Bung Tomo juga disebut kerap meminta petunjuk kepada KH. Hasyim Asy’ari.
Keteladanan Akhlak dan Hubungan Guru-Murid
Salah satu sisi yang menarik dari kehidupan KH. Hasyim Asy’ari adalah hubungan beliau dengan gurunya, KH. Kholil Bangkalan. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa ketinggian ilmu tidak selalu membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada gurunya.
Dalam sebuah kisah, KH. Kholil pernah menyampaikan kepada KH. Hasyim bahwa dahulu ia memang mengajar Hasyim, tetapi kini ia menyatakan dirinya sebagai murid Hasyim.
Mendengar perkataan tersebut, KH. Hasyim justru menolak merasa lebih tinggi. Ia tetap menganggap KH. Kholil sebagai gurunya dan menyatakan bahwa dirinya akan terus menjadi murid sang guru.
KH. Kholil tetap bersikeras untuk belajar kepada KH. Hasyim. Akhirnya, karena memahami watak gurunya, KH. Hasyim menerima beliau sebagai santri.
Bahkan dalam sebuah kisah yang menggambarkan kerendahan hati keduanya, seusai salat berjamaah mereka saling berebut untuk mengambil dan memasangkan sandal gurunya.
Kisah tersebut bukan sekadar cerita mengenai siapa yang lebih tinggi ilmunya. Yang lebih penting adalah akhlak yang ditunjukkan oleh kedua ulama tersebut.
Seorang murid yang telah menjadi ulama besar tetap menghormati gurunya, sementara seorang guru yang memiliki nama besar tidak merasa rendah hati untuk belajar kepada muridnya.
KH. Kholil Bangkalan sendiri merupakan salah satu ulama yang sangat berpengaruh pada zamannya. Banyak tokoh yang kemudian menjadi pendiri dan penggerak NU pernah belajar kepada beliau.
Sementara KH. Hasyim Asy’ari kemudian berkembang menjadi ulama besar yang memiliki pengaruh luas, terutama dalam ilmu hadis.
Setiap bulan Ramadan, KH. Hasyim dikenal memiliki tradisi mengajarkan kitab hadis Bukhari dan Muslim. Kajian tersebut menarik perhatian umat Islam dari berbagai daerah. Bahkan KH. Kholil Bangkalan, yang merupakan gurunya sendiri, disebut pernah hadir dalam majelis pengajian tersebut.
Ribuan santri yang belajar kepada KH. Hasyim kemudian menyebar ke berbagai wilayah. Sebagian di antara mereka menjadi ulama, pengasuh pesantren, dan tokoh penting dalam kehidupan umat Islam Indonesia.
Karena pengaruh yang begitu luas itulah, Tebuireng pada abad ke-20 dikenal sebagai salah satu pusat penting lahirnya ulama dan pemimpin pesantren di Jawa dan Madura.
Kisah Mengambil Cincin Guru dari Lubang Kamar Mandi
Dalam tradisi pesantren, keberhasilan seorang murid dalam memperoleh ilmu sering dikaitkan dengan adab, ketaatan, dan penghormatan kepada guru. Kisah KH. Hasyim Asy’ari ketika belajar kepada KH. Kholil Bangkalan menjadi salah satu cerita yang sering digunakan untuk menggambarkan prinsip tersebut.
Ketika berada di pesantren KH. Kholil, Hasyim tidak hanya belajar kitab. Ia juga mendapat tugas-tugas yang bersifat praktis.
Ia pernah diminta merawat sapi dan kambing, membersihkan kandang, serta mencari rumput. Bagi Hasyim, tugas tersebut bukan sesuatu yang harus dikeluhkan. Ia menjalankannya sebagai bagian dari pengabdian kepada guru.
Suatu hari, setelah mengurus hewan ternak, Hasyim melihat gurunya dalam keadaan murung. Ia kemudian bertanya apa yang sedang dipikirkan sang guru.
KH. Kholil menjelaskan bahwa cincin pemberian istrinya jatuh ke dalam lubang pembuangan kamar mandi.
Hasyim kemudian meminta izin untuk mencari cincin tersebut. Setelah mendapatkan izin, ia membongkar tempat pembuangan dan berusaha mencari cincin itu. Pekerjaan tersebut tentu tidak mudah dan sangat kotor. Namun Hasyim tetap melakukannya karena ia ingin membantu gurunya.
Setelah seluruh isi tempat pembuangan dikeluarkan, cincin tersebut akhirnya ditemukan. KH. Kholil merasa sangat gembira.
Dalam kisah tersebut kemudian disebutkan bahwa sang guru mendoakan Hasyim agar kelak menjadi orang besar, tokoh yang dihormati, panutan masyarakat, dan dicintai banyak orang.
Kisah tersebut menggambarkan satu prinsip yang sangat kuat dalam tradisi pesantren, yaitu penghormatan kepada guru.
Ilmu tidak hanya dipandang sebagai kumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui membaca kitab, tetapi juga sebagai sesuatu yang berkaitan dengan akhlak dan pengabdian. Seorang santri dituntut untuk memahami bahwa belajar bukan sekadar memenuhi kebutuhan intelektual, melainkan juga membentuk karakter.
Dalam konteks itulah kisah KH. Hasyim dan KH. Kholil sering dikenang. Keilmuan yang tinggi berjalan bersama dengan kerendahan hati. Seorang murid menghormati gurunya, sementara seorang guru pun mampu menghargai keilmuan muridnya.
Wafatnya Hadratus Syaikh
Perjalanan panjang KH. Hasyim Asy’ari berakhir pada 25 Juli 1947 atau 7 Ramadan 1366 H. Menurut kisah yang berkembang, pada malam sebelum wafatnya, KH. Hasyim baru saja selesai mengimami salat Tarawih. Setelah itu beliau duduk untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat sebagaimana biasanya.
Tidak lama kemudian datang utusan yang membawa pesan dari Jenderal Soedirman dan Bung Tomo. Utusan tersebut menyampaikan surat kepada KH. Hasyim. Beliau meminta waktu untuk memikirkan isi pesan tersebut dan berjanji memberikan jawaban pada keesokan harinya.
Dalam suasana tersebut, Kiai Ghufron kemudian melaporkan keadaan pertempuran dan kondisi para pejuang yang semakin terdesak, termasuk semakin banyaknya korban dari kalangan rakyat. Mendengar laporan tersebut, KH. Hasyim mengucapkan, “Masya Allah, Masya Allah,” kemudian memegang kepalanya.
Pada awalnya keadaan tersebut dianggap sebagai tanda bahwa beliau sedang mengantuk. Namun tidak lama kemudian Kiai Ghufron menyadari bahwa kondisi KH. Hasyim tidak seperti biasanya. Keluarga kemudian dipanggil dan tubuh beliau dibaringkan. Dokter juga didatangkan untuk memberikan pertolongan.
Setelah diperiksa, diketahui bahwa KH. Hasyim mengalami pendarahan otak. Upaya medis dilakukan, tetapi Allah berkehendak lain. Pada pukul 03.00 dini hari, 25 Juli 1947, KH. Hasyim Asy’ari wafat.
Kepergian beliau menimbulkan duka yang sangat mendalam. Para pejabat sipil dan militer, ulama, sahabat seperjuangan, warga NU, serta para santri Tebuireng datang memberikan penghormatan terakhir. Jenazah beliau kemudian dimakamkan di lingkungan Pesantren Tebuireng.
Dalam sambutan perpisahan, KH. Abdul Wahab Hasbullah menyampaikan gambaran mengenai prinsip hidup KH. Hasyim, yakni terus berjuang tanpa mengenal mundur dan, bila diperlukan, tanpa mengenal istirahat.
Kalimat tersebut menggambarkan sosok KH. Hasyim sebagai ulama yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu, pesantren, umat, dan bangsa.
Karya-Karya KH. Hasyim Asy’ari
Selain meninggalkan pesantren, murid, organisasi, dan jejak perjuangan, KH. Hasyim Asy’ari juga meninggalkan sejumlah karya tulis. Kitab-kitab tersebut menjadi bagian penting dari warisan intelektual beliau. Sebagian besar karya tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan membahas berbagai persoalan keislaman.
Karya-karya itu lahir di tengah kesibukannya mengajar santri, membimbing umat, mengurus pesantren, serta terlibat dalam persoalan sosial dan kebangsaan.
Karena dokumentasi yang tidak sepenuhnya terpelihara, tidak semua karya beliau dapat ditemukan kembali. Dalam sejumlah sumber disebutkan bahwa karya beliau berjumlah lebih dari dua puluh judul, sementara yang masih dapat ditelusuri hanya sebagian.
Salah satu karyanya adalah Al-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin. Kitab ini membahas kewajiban beriman kepada Nabi Muhammad SAW, menaati dan meneladani beliau, membangun keikhlasan, mencintai Rasulullah, sekaligus mengenal sejarah kehidupan beliau.
Karya lainnya adalah Al-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna’u al-Maulida bil Munkarat. Kitab ini membahas persoalan peringatan Maulid Nabi dalam kaitannya dengan amar ma’ruf nahi mungkar.
Kemudian terdapat Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah, yang membahas pandangan mengenai bid’ah, persoalan mengikuti mazhab, serta pembahasan mengenai perpecahan umat menjadi berbagai golongan.
Ada pula Al-Durar al-Muntasyirah fi Masa’il Tis’a ‘Asyrah, yang membahas persoalan wali dan tarekat melalui sejumlah permasalahan yang dibahas secara khusus.
Karya berikutnya adalah Al-Tibyan fi Nahyi ‘an Muqatha’atil Arham wal Aqarib wal Akhwan, yang menekankan pentingnya menjaga hubungan silaturahmi dan tidak memutus hubungan antarsesama manusia.
Dalam bidang pendidikan, KH. Hasyim menulis Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Kitab ini membahas etika orang berilmu dan orang yang sedang menuntut ilmu, khususnya dalam tradisi pendidikan pesantren. Karya ini menjadi salah satu rujukan penting untuk memahami bagaimana beliau memandang hubungan guru dan murid serta adab dalam proses belajar.
Selain itu terdapat Dlau’ al-Misbah fi Bayani Ahkami Nikah, yang membahas hukum-hukum pernikahan, termasuk syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan.
Ada pula Ziyadah Ta’liqat, yang berisi polemik atau catatan pemikiran beliau berkaitan dengan Syaikh Abdullah bin Yasir dari Pasuruan, serta sejumlah karya lain yang tidak semuanya masih mudah ditemukan.
Warisan KH. Hasyim Asy’ari pada akhirnya tidak hanya berupa kitab atau lembaga pendidikan. Warisan terbesarnya juga dapat dilihat dari tradisi keilmuan yang diteruskan oleh para muridnya, jaringan pesantren yang berkembang, organisasi yang dibangunnya bersama para ulama, serta gagasan mengenai hubungan antara agama, pendidikan, masyarakat, dan kebangsaan.
KH. Hasyim Asy’ari merupakan sosok yang hidup pada masa perubahan besar. Ia tumbuh dalam tradisi pesantren, menimba ilmu hingga ke Makkah, kembali ke tanah air untuk mendirikan pesantren, membangun jaringan ulama, ikut mendirikan Nahdlatul Ulama, menghadapi tekanan penjajahan, serta memberikan arah bagi perjuangan umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan.
Karena itu, mengenang KH. Hasyim Asy’ari tidak cukup hanya dengan mengingat gelarnya sebagai Hadratus Syaikh. Lebih dari itu, perjalanan hidupnya memperlihatkan bagaimana ilmu, akhlak, pendidikan, kemandirian ekonomi, organisasi, dan perjuangan kebangsaan dapat berjalan dalam satu rangkaian pengabdian.
Dari sebuah bangunan bambu sederhana di Tebuireng, lahir sebuah pusat keilmuan yang melahirkan ribuan santri dan ulama. Dari tradisi belajar dan penghormatan kepada guru, lahir jaringan keilmuan yang terus berkembang.
Dan dari kepedulian terhadap agama serta bangsa, lahir gerakan yang kemudian memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Indonesia. [Lukni Maulana]
Daftar Pustaka
Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005.
Mujib, A., dkk. Intelektualisme Pesantren. Jakarta: PT Diva Pustaka, 2004.
Rifai, Muhammad. KH. Hasyim Asy’ari: Biografi Singkat 1871–1947. Yogyakarta: Garasi, 2009.
Roziqin, Badiatul, dkk. 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia. Yogyakarta: e-Nusantara, 2009.
Berbagai sumber.

